Passion

Terkadang saya merenung, “mau jadi apa nanti kalau tidak bisa berhitung?“. Jujur saja, saya mengalami kemunduran dengan pelajaran berhitung. Ini dimulai dari kemalasan belajar pada kelas 7. Waktu itu saya masih meremehkan karena materinya hampir mirip dengan kelas 6. Maklum nilai UN tergolong bagus, yaitu 27,75.

Masalah ini bakal jadi rumit untuk sekarang. Kamu tahu saya bersekolah di SMAN 5 Surabaya. Salah satu sekolah terbaik se kota, bahkan tingkat provinsi. Menemukan siswa pandai disini sangat mudah, berbeda dengan siswa kurang. Selain itu, saya ada beban untuk mempertahankan nama baik sekolah.

Kenapa tidak memilih jurusan IPS? Ya, saya dulu ingin masuk situ. Meskipun ada pelajaran berhitung, toh tidak ribet seperti fisika, kimia, dan matematika. Tetapi ada masalah lagi, namanya stereotip. Stereotip anak ips adalah malas, bodoh, dan stigma buruk lainnya. Saya takut di masa depan bakal berpengaruh. Jadinya terpaksa daftar ke jurusan IPA.

Passion saya adalah sejarah. Rata – rata teman tahu kalau saya suka dengan politik dan sejarah. Baca buku – buku sejarah lebih mudah dibanding pelajaran lainnya. Bahkan saya mengerti politik meskipun lewat podcast. Rugi kalau dibuang keahlian ini.

Untuk pelajaran berhitung, saya nyerah. Pandemi ini membuat saya semakin jatuh. Tetapi saya tidak protes, tanpa pandemi mungkin nilai ujian nasional saya akan memalukan. Hari demi hari, dari Google Meet hingga Cisco, saya tidak mengerti apa yang mereka (guru angka) terangkan. Ketika mengerjakan, mungkin salah satu teman punya firasat kalau saya akan tanya dia. Entahlah, kayaknya saya butuh orang langsung untuk mengajar, maksudnya tatap muka.

Saya mikir, “emang harus ya belajar hitung – hitungan?” Ibu dan bapak bisa membiayai hingga sekarang, padahal pekerjaan mereka tidak ada hubungannya dengan resultan vektor, atom, dan materi hitung lainnya. Saya belajar pelajaran angka sendiri tidaklah gunanya, toh juga gak akan paham. Maka waktu itu, saya gunakan untuk membaca buku lain.

**

dan masalah passion akhirnya menemukan jawaban.

Selama orang Indonesia masih berpaham “orang jago matematika / fisika / kimia lebih baik daripada pintar hal lain (seni,sejarah, dan lain)“, ya kamu harus mau belajar berhitung. Ini bukan masalah passion, tetapi masa depanmu. Kalau nilai rapor mu jelek, mau daftar kuliah dimana? Kalau kuliahnya jelek, gimana profesi nanti?

Tidak sedikit orang tua yang berpikiran seperti saya, tetapi apa boleh buat? Selama universitas masih berpaku pada 3 nilai, ya kita harus bertekuk lutut dengan nilai itu. Kalau nilai pelajaran passion bagus, tetapi nilai hitung jelek, kamu akan susah masuk universitas bagus. Orang tua kita harus belajar itung itungan dapet univ bagus, biar mereka bisa dapet pekerjaan menjajikan.

**

tamat.. setelah saya dapet pencerahan, saya mulai berusaha belajar 3 pelajaran. Meskipun muak, tapi apa boleh buat?